HOME INDUSTRI

GELIAT BISNIS BONEKA, MELONGOK LEBIH DALAM KE INDUSTRI BONEKA, ”PAMAN GOBER”

Filed under: Uncategorized — 4 Comments
February 19, 2010
3 Votes

 

Kamis pagi yang cerah di kota Malang, seperti biasa pada pagi itu saya menjalankan tugas peliputan untuk sebuah program yang ditayangkan di sebuah stasiun Televisi lokal di kota Malang. Tugas peliputan pertama pada hari itu adalah tentang home industry penghasil boneka yang cukup berkembang sekalipun namanya tidak terlalu besar dibandingkan dengan Istana Boneka yang namanya telah cukup tersohor di kalangan pecinta boneka.

Terletak di jalan Sarangan atas nomer 16, kota Malang, kedatangan saya bersama dengan tim segera disambut oleh Pak Baso yang tak lain adalah pemilik usaha ini. Oleh lelaki berdarah Makasar yang memiliki nama lengkap Baharudin Baso ini saya segera dipersilakan memasuki dan melihat-lihat seisi rumah yang difungsikan sebagai gudang penyimpanan boneka.

Begitu memasuki pintu, mata segera disuguhi dengan tumpukan-tumpukan boneka berbagai model dan ukuran yang jumlahnya mungkin telah mencapai ribuan. Bahkan saking banyaknya, tumpukan boneka yang ada, tingginya hampir mencapai langit-langit rumah yang saya perkirakan tingginya sekitar 2 hingga 3 meter. Memasuki ruangan-ruangan lainnya, tak ada pemandangan lainnya selain tumpukan boneka sehingga seolah-olah tak ada ruang kosong lagi untuk sekedar bergerak. Dengan dibantu oleh beberapa karyawan bagian gudang yang semuanya adalah perempuan, pak Baso sibuk merapikan tumpukan boneka sehingga ada sedikit ruang jeda untuk melintas.

Tadinya saya pikir boneka-boneka tersebut hanya diletakkan di ruang depan dan ruang tengah saja, namun ketika saya masuk lebih dalam ke ruangan belakang yang terdiri dari beberapa bagian, masih ada lagi tumpukan boneka yang belum dirapikan. Entah ada berapa ribu boneka yang disimpan dalam gudang tersebut.

* * *

Datang ke kota Malang pada tahun 1997 dari Jakarta, pak Baso yang semasa mudanya mengenyam studi di bidang Farmasi, mulai banting setir dan memulai dari awal sekali usaha pembuatan boneka. Kedatangannya ke kota Malang itu sendiri didorong oleh suasana ibukota yang tak lagi nyaman untuk ditinggali karena banyaknya kerusuhan yang terjadi.

Begitu datang ke Malang, Pak Baso menangkap peluang dari usaha pembuatan boneka yang menurutnya adalah sebuah usaha yang tak akan mudah mati karena penggemarnya yang sangat besar dan berbeda dengan usaha kuliner yang memiliki masa kadaluarsa, boneka merupakan sebuah produk yang tak akan mudah rusak dimakan waktu.

Akan tetapi, usaha pembangunan usaha itu tidak serta merta langsung besar begitu saja, justru sebaliknya dari pengakuannya, dia malah memulainya dari nol sama sekali dengan menjadi penjual eceran, lalu menjadi agen, hingga akhirnya memutuskan untuk mempelajari proses pembuatan boneka dan mulai membuat boneka produksinya sendiri.

Pelan tapi pasti, usaha pembuatan boneka yang diberi nama cukup unik yaitu : UD PAMAN GOBERmulai berkembang pesat hingga orderan dari luar kota dan luar pulau terus membanjiri tempat produksi dan gudangnya. Berbagai model boneka bisa ditemukan baik di pabrik maupun di gudang, mulai dari tokoh kartun anak-anak, bantalan kursi, bantalan jok, maskot tim sepakbola, dan yang tak boleh ketinggalan adalah boneka beruang berbagai bentuk.

Nama Paman Gober sendiri dipilihnya karena latar belakang tokoh kartun Walt Disney tersebut yang datang dari desa ke kota dengan tidak membawa kekayaan sama sekali, namun bisa berhasil di perantauan (kota Bebek) sehingga kemudian bisa menjadi orang terkaya di kota tersebut. Hal itulah yang kiranya juga menjadi angan-angan pak Baso untuk bisa meraih sukses di perantauan.

* * *

Setelah dari gudang, pak Baso selanjutnya mengajak saya serta untuk melihat-lihat proses produksi yang terletak di Pandaan. Setelah melalui perjalanan kira-kira satu jam lamanya, kami tiba di pabrik tempat pak Baso membuat boneka-bonekanya. Di pabrik yang tak lain adalah sebuah rumah sederhana yang terletak di depan sawah tersebut, terdapat sekitar 10 karyawan yang lagi-lagi semuanya adalah perempuan dan ibu-ibu. Para karyawan ini terdiri dari bagian pemotongan kain, bagian memasukkan kapas ke dalam boneka, dan bagian finishing.

Untuk bagian penjahitan kain, pak Baso mempercayakan kepada warga-warga sekitar area pabriknya untuk menjahit di rumahnya masing-masing (home worker). Dengan begitu tentu saja pak Baso bisa melakukan penghematan tempat dan energi sehingga secara ekonomis dapat menghemat biaya produksi pula.

Mengenai karyawannya yang semua adalah kaum perempuan, pak Baso juga memiliki alasan tersendiri dalam rekruitmennya. Menurutnya, kaum perempuan lebih cermat dan teliti sehingga kesalahan produksi yang merugikan dapat dihindari.

Dengan karyawannya yang berjumlah sekitar 40’an orang tersebut, dalam sehari pak Baso rata-rata bisa memproduksi boneka segala ukuran dan bentuk sejumlah 300 buah. Dengan kapasitas produksi sebesar itu, menurut pak Baso dalam sebulan biaya produksinya bisa mencapai seratus hingga dua ratus juta rupiah.

Untuk penjualannya sendiri, boneka-boneka buatan pak Baso telah dipasarkan ke hampir seluruh daerah di Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua dengan omset yang mencapai rata-rata 500 juta per bulan.

* * *

Setelah puas mengamati proses pembuatan boneka, sambil menikmati buah rambutan dan sebotol minuman ringan, kami pun mulai ngobrol santai. Dalam obrolan tersebut, pak Baso menyampaikan tentang motto yang dipegang dalam membangun usaha pembuatan boneka ini, yaitu : ”selagi perempuan masih bisa hamil, saya akan terus bikin boneka!”

Menarik memang, dan tak salah kalau usaha pembuatan boneka yang telah kita kenal sebelumnya bisa tumbuh besar, sebab peluang untuk mengembangkannya memang sangat terbuka lebar. Tapi tunggu dulu, sebab persaingan dengan produk China yang mulai tahun 2010 ini mulai membanjiri Indonesia, tentu saja sedikit banyak juga berpengaruh terhadap penjualan boneka. Akan tetapi, hal tersebut disiasati oleh pak Baso dengan membuat boneka-boneka yang harga jualnya tidak terlalu mahal. Dalam hal ini pak Baso berusaha menggaet pelanggan di tingkatan menengah ke bawah, dan rupanya strateginya ini terbukti berhasil, bahkan tak lama lagi dirinya akan segera membangun pabrik dan gudang yang baru dengan kapasitas produksi yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s